Itulah yang dilihat oleh Richard di Philadelphia— sebuah kota dengan jumlah mural terbanyak di dunia, saat menjalani studi dalam program pertukaran pelajar dari kampusnya, Univ ersitas Indonesia, pada tahun 2012. Sebuah kekaguman dan ketertarikan yang menggelitik ingatannya akan kondisi di Indonesia di mana banyak ruang publik kotor oleh corat- coretan yang merusak keindahan kota. “Coba di Jakarta bisa kaya gini… .” Sebuah keinginan sekaligus harapan yang terus ada dalam pikirannya. Pria yang punya latar belakang pendidikan di Jurusan Hubungan Internasional ini pun mulai melakukan observ asi dan mencoba mendalami karya mural yang memikatnya itu.

Bagaimana sebuah bentuk tercipta, cara para seniman membangun karakter dalam karyanya, sungguh menarik baginya. Tak perlu menunggu waktu lama, sesampainya di Tanah Air seusai tugas sekolah, segera dia menghubungi beberapa teman di komunitasnya yang punya ketertarikan yang sama. Dua orang teman, Supriyadi dan Neidy Ifwandi lah yang akhirnya berkomitmen dengannya mencipta karya mural di Indonesia.

LAHIRNYA MURAL INDONESIA

Nama Indonesia Mural pun lahir saat itu atas pertimbangan sederhana ingin membangkitkan imajinasi orang Indonesia dengan karya mural agar lebih banyak orang Indonesia semakin maju dalam berpikir dan mengembangkan mimpinya. Mimpi mengubah kota Jakarta jadi seindah Philadelphia melalui mural, coba diwujudkan Richard dkk dengan mengajukan proposal ke Pemprov DKI.

Misi ini sayangnya terganjal oleh regulasi dan peraturan gubernur saat itu yang berisi pelarangan mencorat- coret, melukis, dan sejenisnya di area publik. Tertolak di proposal “sosial” ini rupanya menciptakan gagasan untuk langsung membawa Indonesia Mural ke ranah komersial. Proposal pun disebar ke berbagai perusahaan. Inilah yang sampai saat ini digeluti oleh “3 sekawan” ini. Menjalankan proyek satu ke proyek lain dengan penuh keyakinan.

TARGET KONSUMEN

Richard sangat meyakini akan masa depan yang cerah dari bisnis mural ini. “Dekorasi dinding di Indonesia sangat terbatas selama ini. Biasanya hanya menggunakan cat polos. Orang Indonesia semestinya bisa berpikir out of the box dengan melihat hal yang berbeda dalam kesehariannya,“ ujarnya. Sejauh ini diakui oleh Richard klien terbanyak berasal dari perusahaan dan restoran. Untuk kalangan residensial pun ada, namun masih sebatas orang- orang “khusus” yang punya keinginan mendekor rumahnya secara khusus agar berbeda dari lainnya. Selain mendekor dinding rumah juga perlu dilengkapi dengan genset. Terdapat distributor resmi genset yang jual genset perkins di Bali dan juga jual genset diesel di Medan dengan harga murah dan bergaransi.

SOAL TARIF

Pembuatan mural melewati proses yang cukup panjang. Indonesia Mural menetapkan tarif dengan hitungan per m2 untuk karya- karya mereka. Jika sebuah proyek di bawah 10m² maka dihitung tarifnya per buah artwork . Kalau di atas 10m² maka tarifnya berkisar Rp250 ribu—Rp600 ribu per m² . “Ibaratnya 65% dari biaya pekerjaan ada di kisaran itu. Sisanya tergantung desain dan tingkat kesulitan,“ tambah Richard.

MEGA PROYEK

Mega proyek Indonesia Mural, dari sisi ukuran, adalah yang ada di Puri Botanical. Ada 3 mural raksasa di belakang Marketing Gallery Puri Botanical berukuran tinggi 12m, panjang 200m, dan luasnya sekitar 3.500m² . Pembuatan mural ini disayembarakan dan Indonesia Mural berperan sebagai penyelanggara sayembara pembuatan mural yang diikuti oleh kelompok peserta dari Jogja, Surabaya, dan Jakarta.

Setiap proyek semua sama bagi Richard. “Jika saya mampu memilih karya yang satu lebih baik dari karya lainnya, sebenarnya, itu wujud kegagalan saya terhadap proyekproyek lain yang tak terpilih,” ujar Ricahrd memberi alasan mengapa dia tak bisa membandingkan satu proyek dengan proyeknya yang lain.

ONE MURAL ONE PLACE

Richard dengan 2 orang temannya di Indonesia Mural punya mimpi, seiring perjalanan akan menciptakan “satu mural untuk satu tempat”. Artinya, mural bikinan mereka akan menjadi identif kasi sebuah tempat dan menjadikan orang yang berkunjung ke tempat itu akan punya kesan khusus dan naik moodnya.

Namun dalam perjalanan saat ini, ada duka yang masih sering dirasakan oleh Richard dan temannya. “Kami masih sering d isamain dengan tukang cat,” ujarnya. Karenanya, perjuangan yang saat ini dilakukannya adalah mengomunasikan ke klien bahwa mereka adalah tenaga profesional yang mengalokasikan waktu, tenaga, dan seluruh energi untuk mengerjakan mural, memahami keinginan orang, menginterpretasi kebutuhan, dan mengaplikasikan.

RUMUS KEBERHASILAN

“Tak membatasi diri untuk eksplorasi atau idealisme. Kami mencoba mengekplorasi semakin banyak hal yang bisa diekplorasi, “ ujar Richard yang mengakui bahwa saat ini Indonesia Mural sudah menjadi “3 besar top v endor mural di Indonesia”. Bagi para calon konsumen, Richard menitip pesan. Cobalah sesuatu yang berbeda dengan yang selama ini sudah diwariskan kepada Anda. L ihatlah opsi baru, sehingga imajinasi juga akan lebih berkembang.

Jika dulunya mendekor tembok hanya dengan sapuan cat biasa, cobalah untuk menampilkan hal yang berbeda, salah satunya dengan mural. Sedangkan bagi para pekerja seni yang tertarik di bisnis mural, pesannya adalah pecaya pada kemampuan diri dan hadapi tantangan. Jalin network ing dengan para senior. Demikian Richard menutup pembicaraan siang itu.

Author