Sebagaimana diketahui bahwa tersedia empat kewajiban yang mesti ditunaikan oleh orang yang masih hidup terhadap orang yang meninggal atau mayit. Keempat kewajiban itu adalah memandikan, mengafani, menshalati, dan mengubur.

Memandikan mayit adalah proses yang pertama kali ditunaikan di dalam memulasara jenazah sebagai tindakan memuliakan dan bersihkan tubuh si mayit. Tentunya tersedia keputusan dan tata cara khusus yang mesti ditunaikan di dalam memandikan mayit.

1.Tata Cara Memandikan Jenazah Menurut Syariat Islam
Sebelum mengkaji tata cara memandikan jenazah, mesti kita ketahui peralatan-peralatan yang mesti dipersiapkan untuk memandikan jenazah, yaiut pada lain sebagai berikut.

Tempat tidur atau meja bersama ukuran kurang lebih tinggi 90 cm, lebar 90 cm, dan panjang 200 cm, untuk menempatkan mayit.
Air suci secukupnya di ember atau area lainnya (6-8 ember).
Gayung secukupnya (4-6 buah).
Kendi atau ceret yang diisi air untuk mewudukan mayit.
Tabir atau kain untuk menutup area memandikan mayit.
Gunting untuk membebaskan pakaian atau pakaian yang sukar dilepas.
Sarung tangan untuk dipakai kala memandikan agar tangan senantiasa bersih, khususnya andaikata mayitnya berpenyakit menular.
Sabun mandi secukupnya, baik padat maupun cair.
Sampo untuk bersihkan rambut.
Kapur barus yang sudah dihaluskan untuk dicampur di dalam air.
Kalau tersedia daun bidara juga bagus untuk dicampur bersama air.
Tusuk gigi atau tangkai padi untuk bersihkan kuku mayit bersama pelan.
Kapas untuk bersihkan anggota tubuh mayit yang halus, seperti mata, hidung, telinga, dan bibir. Kapas ini juga sanggup digunakan untuk menutup anggota badan mayit yang mengeluarkan cairan atau darah, seperti lubang hidung, telinga, dan sebagainya.

Berikut ini adalah tata cara memandikan jenazah menurut syariat Islam
Dilaksanakan di area tertutup agar yang memandang hanya orang-orang yang memandikan dan yang mengurusnya saja.

Mayat hendaknya ditaruh di area jenazah yang tinggi seperti dipan.

Jenazah dipakaikan kain basahan seperti sarung agar auratnya tidak terbuka.

Jenazah didudukkan atau disandarkan terhadap sesuatu, sesudah itu disapu perutnya sambil ditekan pelan-pelan agar semua kotorannya
keluar, sesudah itu dibersihkan bersama tangan kirinya, dianjurkan mengenakan sarung tangan.

Dalam perihal ini boleh memakai minyak wangi agar tidak terganggu bau kotoran si mayat. Setelah itu, hendaklah mengganti sarung tangan untuk bersihkan mulut dan gigi jenazah tersebut.

Membersihkan semua kotoran dan najisnya. Mewudhukan jenazah, setelah itu membersihkan semua badannya.

Disunahkan membersihkan jenazah sebanyak tiga sampai lima kali. Air untuk memandikan jenazah sebaiknya dingin.

Kecuali udara sangat dingin atau terkandung kotoran yang sukar dihilangkan, boleh menggunakan air hangat Catatan : Apabila jenazah berusia 7 tahun atau tidak cukup berasal dari itu, tidak tersedia batasan auratnya, baik jenzah itu laki laki maupun perempuan.

Janin yang berusia di bawah 4 bulan, tidak mesti dimandikan, dikafan maupun dishalatkan. Cukup digali lubang dan sesudah itu dikebumikan.

Adapun janin yang berusia di atas 4 bulan sudah diakui manusia gara-gara roh sudah ditiupkan kepadanya.
Jenazahnya dimandikan, seperi memandikan jenazah anak berusia 7 tahun.

Jika jenazah mengenakan gigi palsu yang terbuat berasal dari emas, hendaknya dibiarkan saja, tidak mesti ditanggalkan.
kecuali kalau gigi palsu itu tidak menempel kokoh. Hal tersebut boleh ditunaikan kalau mulut jenazah terbuka. Jika tidak, dibiarkan saja tidak mesti membukanya hanya untuk menanggalkan gigi palsu jenazah tersebut.

2.cara minimal memandikan jenazah

Secara singkat Syekh Salim bin Sumair Al-Hadlrami menjelaskan di dalam kitabnya Safînatun Najâh (Beirut: Darul Minhaj, 2009):

أقل الغسل تعميم بدنه بالماء

Artinya: “Paling sedikit memandikan mayit adalah bersama meratakan air ke semua anggota badan.”

Sedikit lebih rinci secara teknis cara ini dijelaskan oleh Dr. Musthafa Al-Khin di dalam kitab al-Fiqhul Manhaji (Damaskus: Darul Qalam, 2013) bersama menghalau najis yang tersedia di tubuh mayit sesudah itu menyiramkan air secara merata ke tubuhnya. Bila cara ini sudah ditunaikan bersama benar dan baik maka mayit sanggup dikatakan sudah dimandikan dan gugurlah kewajiban orang yang hidup terhadap si mayit.

3.cara memandikan jenazah secara prima

Syekh Salim menjelaskan cara kedua ini bersama menjelaskan:

وأكمله ان يغسل سوأتيه وأن يزيل القذر من أنفه وأن يوضأه وأن يدلك بدنه بالسدر وأن يصب الماء عليه ثلاثا

Artinya: “Dan sempurnanya memandikan mayit adalah membersihkan kedua pantatnya, menghalau kotoran berasal dari hidungnya, mewudlukannya, menggosok badannya bersama daun bidara, dan mengguyunya bersama air sebanyak tiga kali.”

Secara teknis Dr. Musthafa Al-Khin mengatakan cara kedua ini sebagai berikut:

1. Mayit ditaruh di area yang sepi di atas area yang tinggi seperti papan kayu atau lainnya dan ditutup auratnya bersama kain. Pada era sekarang ini di Indonesia sudah tersedia alat semacan keranda untuk memandikan jenazah yang terbuat berasal dari bahan uluminium atau stenlis.

2. Orang yang memandikan memposisikan jenazah duduk sedikit miring ke belakang bersama ditopang tangan kanannya, kala tangan kirinya mengurut anggota perut jenazah bersama penekanan agar apa yang tersedia di dalamnya keluar. Lalu yang memandikan membungkus tangan kirinya bersama kain atau sarung tangan dan membersihkan lubang depan dan belakang si mayit. Kemudian bersihkan mulut dan hidungnya lantas mewudlukannya sebagaimana wudlunya orang hidup.

3. Membasuh kepala dan wajah si mayit bersama menggunakan sabun atau lainnya dan menyisir rambutnya andaikata mempunyai rambut. Bila tersedia rambut yang tercabut maka dikembalikan ulang ke asalnya untuk ikut dikuburkan.

4. Membasuh semua segi kanan tubuh berasal dari yang dekat bersama wajah, sesudah itu berpindah membersihkan segi kiri badan juga berasal dari yang dekat bersama wajah. Kemudian membersihkan anggota segi kanan berasal dari yang dekat bersama tengkuk, lantas berpindah membersihkan anggota segi kiri juga berasal dari yang dekat bersama tengkuk. Dengan cara itu semua orang yang memandikan meratakan air ke semua tubuh si mayit. Ini baru dihitung satu kali basuhan. Disunahkan mengulangi dua kali ulang sebagaimana basuhan tersebut agar prima tiga kali basuhan. Disunahkan pula mengkombinasikan sedikit kapur barus di akhir basuhan andaikata si mayit bukan orang yang sedang ihram.

Syekh Nawawi di dalam kitabnya Kâsyifatus Sajâ menjelaskan (Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2008), disunahkan basuhan pertama bersama daun bidara, basuhan kedua menghalau daun bidara tersebut, dan basuhan ketiga bersama air bersih yang diberi sedikit kapur barus yang andaikata tidak sampai memengaruhi air. Ketiga basuhan ini diakui sebagai satu kali basuhan dan disunahkan mengulanginya dua kali ulang seperti basuhan-basuhan tersebut.

Artikel Terkait:
Tata Cara Sholat Jenazah & Tata Cara Sholat Jenazah dan Bacaanya

Author

Penulis aktif namun masih seperti daun yang hijau, masih butuh belajar dan belajar, berharap bisa memberikan inspirasi kepada semua pembaca blog ini. Salam sukses selalu. Keep share and spirit..