Sungguh, terik matahari tak mampu mengusiknya khusuk pada diam. Raganya termenung, tatapannya kosong, membuat orang manapun mengerti bahwa rasa serta akalnya tidak sedang bersama raganya. Dengan topi merah kebanggaannya ketika mengikuti event open trip wisata bromo, serta kaos hadiah dari Indolora-Malang.

Entah apa yang ada dalam kepalanya. Seperti sebak yang lama menggumpal, atau seperti lolongan panjang nan perih. Dan kami disampingnya hanya dapat diam bersama pemakluman. Tentang apapun rasa pria itu.

“Aku harus bagaimana?” katanya lirih.
Nyaris tak terdengar, sebab bibirnya hanya bergetar sekilas.

Setelah diam yang panjang, keheningan pecah diantara kami. Kamipun serentak menatapnya bersamaan tanpa ada kalimat selanjutnya. Bersama tatapan kami yang seolah memahami dengan makna iba, kedua bola mata itu mulai sembab.

Dan masih dengan tanpa membuatnya bergerak, di pipinya terlihat air mengalir. Air mata yang jujur baru saja keluar dari mata yang dikuasai tatapan kosong.

Sekuat apapun raga, pada nyatanya seorang pria dengan tubuh dan otot yang ala kadarnya itu tak kuasa membendung air mata. Wajahnya yang rupawan bukan alasan.
Sebab tak akan ada manusia yang mampu menahan ketika sebak benar-benar tlah berkuasa. Tak ada hati yang mampu tetap tegar ketika kehilangan meraja.

Sebab ketika meyentuh luka yang hanya dapat di kenang. Pada sebuah masa, di satu waktu. Dimana rasa sudah tak lagi memiliki makna kepadanya.
Kita sebagai seorang manusia, berhak atas dosa bersama: Kehilangan.

Namun kita terkadang hanya terlupa, bahwasanya yang kita miliki berhak untuk pergi, untuk tak tinggal.
Sama sepertinya.

Kami masih menungguinya sedikit lebih reda. Sebab tak ada yang mampu kami lakukan selain menunggunya mereda sebaknya sendiri.
Perlahan langit terik siang ini di hiasai gumpalan kelabu awan mendung. Seolah langit mengerti betul sedihnya pria ini. Seolah alam merestui ia menangis.
Dan memang, air mata pria adalah sebuah kejujuran. Dan kali ini, alam sedang mendukungnya bersedih.

Hujan Desember, menjadi saksi atas kejujuran seorang pria di pinggir jalan. Tentang sedihnya, tentang perasaannya.
Kemudian ketika tangis pria itu mereda, kami sepakat memberinya hadiah kecil. Sebuah hadiah yang hanya berupa tiket kebersamaan terakhir. Sebuah hadiah yang mungkin akan sedikit membantu memuncakkan pilunya, kemudian terlahir kembali menjadi pria tegar seperti sedia kala.

Tiket kecil paket wisata open trip bromo, untuknya, untuk dia dan gadisnya yang tak mendapat restu dari orang tua mereka.

Author

Penulis aktif namun masih seperti daun yang hijau, masih butuh belajar dan belajar, berharap bisa memberikan inspirasi kepada semua pembaca blog ini. Salam sukses selalu. Keep share and spirit..