Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairoh berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Hak muslim tehadap muslim lainnya ada enam : Jika engkau bersua dengannya maka ucapkanlah salam, jikalau dia mengundangmu maka sambutlah, jikalau dia meminta nasehat darimu maka nasehatilah, jikalau dia bersin dan mengucapkan Alhamdulillah maka mohonkanlah hidayah (petunjuk) baginya, jikalau dia sakit maka kunjungilah dan jikalau dia meninggal dunia maka iringilah (mayat) nya.”

Dari hadits diatas tampak bahwa satu diantara kewajiban kifayah kaum muslimin pada seorang muslim yang meninggal dunia adalah mengantarkannya ke pemakamannya baik orang yang meninggal itu dikenal atau tidak dikenalnya. dan jika mengalami kesulitan untuk tempat pemandian jenazah anda bisa kunjungi  http://pemandianjenazah.net.

Urgennya masalah mengiringi jenazah ini tampak dari pahala besar yang Allah siapkan bagi tiap-tiap orang yang mengiringinya sampai selesai dimakamkan, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Barangsiapa yang nampak dari rumahnya dengan jenazah kemudian mengiringinya sampai dimakamkan maka baginya pahala dua qirath yang tiap-tiap qirath-nya bagaikan satu gunung uhud dan barangsiapa yang menshalatinya kemudian pulang maka baginya satu qirath.” (HR. Muslim)

Tentang adab mengiringi jenazah disebutkan di dalam fatwa al Lajnah ad Daimah :

“Adapun mengiringi jenazah ke pemakaman hendaknya tanpa bersuara, tidak dengan berdzikir atau membaca al Qur’an sebagai wujud pengamalan dari sunnah Rasulullah saw dan para Khulafa ar Rasydin dan para pendahulu di abad-abad pertama yang sudah dianggap kebaikannya oleh Rasulullah saw.” (al Lajnah ad Daimah li al Buhuts al Ilmiyah wa al Ifta’, fatwa no. 829)
Apa saja yang disyariatkan Islam di dalam membawa dan mengantarkan jenazah?

Disyari’atkan mengantarkan jenazah dan turut memikulnya, disunnahkan untuk memikul dari seluruh pinggir keranda. Diriwayatkan oleh Ahmad, dari Abu Sa’id, bahwa Rosulullah SAW bersabda: “Jenguklah orang sakit dan iringkanlah jenazah niscaya akan mengingatkanmu akan hari akhirat”.
Menyegerakan kepengurusan jenazah, dengan tidak menyebabkan rusaknya jenazah atau menyusahkan pemikul keranda dan pengantar jenazah. oleh karena itu anda pasti membutuhkan keranda jenazah, segeralah kunjungi http://pemandianjenazah.net/keranda-jenazah.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Nasa’I dan lain2, dari Abu Bakar katanya: “Akan kau memandang bahwa di dalam mengantarkan jenazah itu, anda beserta Rasulullah SAW seolah-olah berlari layaknya”.
Berjalan di depan, belakang, segi kanan atau segi kiri dekat keranda. Para ulama tidak sama pendapat mengenai mana yang lebih utama, namun Annas bin Malik berpendapat seluruhnya nilainya sama, sebagaimana sabda Rosulullah: ”Orang yang berkendaraan hendaklah berjalan di belakang jenazah, sedang yang berjalan kaki hendaknya berjalan di belakang, depan, di sebelah kanan dan disebelah kiri di dekatnya”.

Apakah boleh mengantar jenazah dengan berkendaraan?

Jumhur ulama berpendapat, makruh mengantar jenazah dengan berkendaraan jikalau ada udzur, namun sewaktu ulang dari pekuburan diperbolehkan, berdasarkan hadist riwayat Turmudzi, ”Bahwa Rosulullah SAW pergi mengantarkan jenazah Ibnu Dahdah dengan berjalan kaki dan ulang dengan mengendarai seekor kuda”.

Hal-hal apa saja yang dimakruhkan mengenai jenazah?

1. Berdzikir, membaca sesuatu atau pekerjaan2 lainnya dengan suara keras. Berkata Ibnul Mundzir: ”Kami beroleh riwayat dari Qeis bin ’Ibad yang mengatakan bahwa para sobat Rosulullah SAW tidak menyukai mengeraskan suara pada tiga hal: hadapi jenazah, ketika berdzikir dan sewaktu peperangan”.

2. Mengiringinya dengan perapian, dikarenakan ini merupakan tingkah laku jahiliyyah. Berkata Baihaqi: ”Dan di dalam wasiat dari ’Aisyah, dari ’Ubadah bin Shamit,Abu Hurairah, Abu Sa’id al-Khudri dan Asma’ binti Abu Bakar ra. Terdapat ’Janganlah anda iringkan aku dengan api’.” Tapi seandainya pemakaman dilakukan malam hari sampai butuh penerangan maka tidak ada salahnya. Berdasarkan hadist yang diriwayatkan oleh Turmudzi dari Ibnu Abbas: ”Bahwa Rosulullah SAW pernah memasuki suatu kuburan di malam hari, maka dinyalakan lampu”.

3. Menurut kebanyakan sahabat, Tabi’in, Hanafi, Hambali, Auza’i dan Ishak adalah makruh jikalau pengiring jenazah duduk sebelum akan jenazah ditempatkan di bumi, berdasarkan hadist Rosulullah dari Abu Sa’id al-Khudri: ”Jika anda memandang jenazah, hendaklah berdiri! Dan siapa yang mengiringinya janganlah ia duduk sebelum akan diletakan” Sedangkan menurut Imam Syafi’i tidak makruh seandainya si pengantar jenazah duduk sebelum akan mayat diletakan. Berdasarkan ucapan Imam Syafi’i, bicara Turmudzi: ”Diriwayatkan dari {beberapa|sebagian|lebih dari satu} ahli dari para sobat Nabi SAW dan lain2, bahwa mereka biasa terhitung mendahului jenazah dan duduk sebelum akan ia sampai”.

4. Berdiri ketika jenazah lewat. Para ulama berselisih faham di dalam masalah ini, satu diantara mereka ada yang berpendapat makruh berdiri ketika jenazah lewat, ada terhitung yang perlihatkan sunnat berdiri, dan ada yang berpendapat boleh memilih satu diantara keduanya.

5. Mengiringkan jenazah bagi wanita. Dalam masalah ini para ulama tidak sama pendapat. Mazhab Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar, Abu Amamah, ‘Aisyah, Masruq, Hasan, Nakh’i, Auza’i, Ishak, Hanafi, Syafi’i dan Hambali berpandapat makruh bagi wanita untuk mengiringkan mayat, berdasarkan hadist riwayat Ahmad, Bukhari dan Ibnu Majah, dari Ummu ‘Athiyyah, katanya: “Kami dilarang untuk mengiringkan jenazah, namun tidaklah dikerasi”. Sedangkan menurut Imam Malik, tidaklah makruh jikalau perempuan yang sudah berumur mengantar jenazah, demikianlah terhitung wanita muda yang kematiannya dirasakan sebagai musibah besar atas dirinya, dengan syarat ia pergi sembunyi2 dan tidak akan mengundang fitnah.
Adapun menurut Ibnu Hazmin, tidak ada salahnya bagi wanita mengantarkan mayat.

Author

Penulis aktif namun masih seperti daun yang hijau, masih butuh belajar dan belajar, berharap bisa memberikan inspirasi kepada semua pembaca blog ini. Salam sukses selalu. Keep share and spirit..